Harga Emas Turun Tajam, BPS Ungkap Dampaknya ke Inflasi April 2026

Selasa, 05 Mei 2026 | 00:35 WIB
Harga emas global merosot tajam menyeret emas perhiasan ke zona deflasi dan turut menahan laju inflasi Indonesia pada April 2026
Harga emas global merosot tajam menyeret emas perhiasan ke zona deflasi dan turut menahan laju inflasi Indonesia pada April 2026 (Foto: Ilustrasi: AI Generated / Tim Redaksi Riwara.id)

 

JAKARTA, RIWARA.id – Penurunan harga emas dunia mulai terasa dampaknya di dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat emas perhiasan kembali mengalami deflasi pada April 2026, bahkan lebih dalam dibanding bulan sebelumnya.

Data ini menjadi sorotan karena emas sebelumnya mengalami tren kenaikan panjang selama lebih dari dua tahun. Kini, arah pergerakannya justru berbalik dan ikut menahan laju inflasi nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 3,76 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada April 2026. Angka tersebut lebih dalam dibandingkan Maret 2026 yang mencatat deflasi 1,17 persen.

“Emas perhiasan pada Maret dan April mengalami penurunan pada harga internasionalnya,” ujar Ateng di Jakarta, Senin, 4 Mei 2026.

Harga Emas Dunia Terus Turun

Penurunan harga emas dalam negeri sejalan dengan tren global. Berdasarkan data World Bank melalui Commodity Price Data, harga emas dunia mengalami koreksi dalam tiga bulan terakhir.

Pada Februari 2026, harga emas masih berada di level 5.019,97 dolar AS per troy ounce. Angka tersebut kemudian turun menjadi 4.881,13 dolar AS pada Maret dan kembali melemah ke 4.719,28 dolar AS pada April 2026.

Tren penurunan ini menjadi titik balik setelah sebelumnya harga emas terus menguat selama 30 bulan berturut-turut sejak September 2023 hingga Februari 2026.

Tekan Inflasi Nasional

Dampak dari turunnya harga emas tidak hanya terasa di sektor perhiasan, tetapi juga memengaruhi kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya.

BPS mencatat kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,99 persen mtm pada April 2026, dengan kontribusi terhadap deflasi umum sebesar 0,07 persen. Sementara emas perhiasan sendiri menyumbang deflasi sebesar 0,09 persen.

Menariknya, ini merupakan deflasi terdalam pada kelompok tersebut sejak Januari 2020. Kondisi ini menjadikannya salah satu faktor utama yang menahan laju inflasi bulanan.

“Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi atau meredam inflasi pada April 2026,” kata Ateng.

Inflasi Tetap Terkendali

Secara keseluruhan, Indonesia masih mencatat inflasi yang relatif terkendali. Pada April 2026, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,13 persen mtm.

Sementara itu, inflasi tahunan mencapai 2,42 persen (year-on-year/yoy), dan inflasi tahun kalender berada di angka 1,06 persen (year-to-date/ytd).

Sinyal Peluang atau Risiko?

Penurunan harga emas bisa menjadi peluang bagi masyarakat untuk membeli di harga lebih rendah. Namun di sisi lain, kondisi ini juga mencerminkan dinamika ekonomi global yang sedang bergejolak.

Pergerakan harga emas ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh faktor global, seperti kebijakan suku bunga, kekuatan dolar AS, hingga ketidakpastian ekonomi dunia.*

 

 

Harga emas perhiasan turun tajam pada April 2026. BPS mencatat deflasi 3,76 persen dan berkontribusi menahan laju inflasi nasional.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories