Ritual Wijayakusuma Digelar di Cilacap, Tradisi Keraton Surakarta Kembali Jadi Sorotan

Senin, 04 Mei 2026 | 12:59 WIB
ilustrasi Prosesi ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma berlangsung di kawasan pesisir Kabupaten Cilacap dengan kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat membawa bunga dan perlengkapan adat
ilustrasi Prosesi ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma berlangsung di kawasan pesisir Kabupaten Cilacap dengan kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat membawa bunga dan perlengkapan adat (Foto: Ilustrasi: AI Generated / Tim Redaksi Riwara.id)

 

CILACAP, RIWARA.ID – Pelaksanaan ritual adat Miwaha Sekar Wijaya Kusuma di pesisir selatan Cilacap kembali menarik perhatian publik. Tradisi yang lekat dengan sejarah Karaton Surakarta Hadiningrat ini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga memunculkan kembali perbincangan mengenai posisi dan maknanya dalam dinamika keraton saat ini.

Sebanyak 250 kerabat keraton mengikuti prosesi yang digelar pada Minggu (3/5/2026), sebagaimana dilansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Cilacap. Kegiatan diawali dengan doa bersama di pendopo kabupaten, dilanjutkan kirab menuju Pantai Teluk Penyu, hingga pelaksanaan ritual inti di Pulau Majeti.

Namun lebih dari sekadar prosesi budaya, ritual ini memiliki dimensi simbolik yang kerap dikaitkan dengan tradisi penobatan raja di lingkungan Kasunanan Surakarta. Dalam praktik budaya keraton, pengambilan bunga Wijayakusuma secara historis dipahami sebagai bagian dari rangkaian legitimasi simbolik seorang pemimpin.

Antara Tradisi dan Dinamika Keraton

Dalam beberapa tahun terakhir, Karaton Surakarta Hadiningrat kerap menjadi perhatian publik karena dinamika internal yang berkembang. Dalam konteks tersebut, kemunculan kembali ritual-ritual tradisional seperti Wijayakusuma sering kali tidak hanya dipandang sebagai pelestarian budaya, tetapi juga dibaca dalam berbagai perspektif.

Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa ritual ini disampaikan sebagai kegiatan budaya oleh pemerintah daerah, dan tidak secara eksplisit dikaitkan dengan agenda politik atau penobatan raja dalam waktu dekat.

Pemaknaan terhadap ritual tersebut pun berada dalam ranah tradisi dan interpretasi budaya yang dapat beragam, baik di kalangan internal keraton maupun masyarakat luas.

Rangkaian Prosesi dan Pembagian Peran

Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Cilacap, Budi Narimo, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi dengan Doa Kawilujengan.

Selanjutnya, rombongan melakukan kirab menuju kawasan pantai sebelum dibagi ke dalam beberapa kelompok:

Tim utama menuju Pulau Majeti untuk pengambilan bunga
Tim pendukung menuju Goa Masigit Sela untuk doa dan ziarah
Sebagian kembali ke pendopo untuk persiapan lanjutan

Rangkaian ini menunjukkan bahwa ritual dijalankan dengan struktur yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Potensi Budaya dan Wisata

Di luar aspek simbolik, Pemerintah Kabupaten Cilacap melihat kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan identitas budaya sekaligus potensi wisata sejarah.

Kawasan Pulau Majeti dan Goa Masigit Sela selama ini dikenal memiliki nilai historis yang berkaitan dengan tradisi keraton Jawa, dan terus didorong sebagai destinasi wisata berbasis budaya.

Belum Ada Pernyataan Resmi Keraton

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat pernyataan resmi dari pihak Karaton Surakarta Hadiningrat maupun Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat terkait pelaksanaan ritual tersebut.

Riwara.id telah berupaya menghubungi pihak terkait untuk memperoleh konfirmasi, namun belum mendapatkan tanggapan.*

 

Ritual Wijayakusuma di Cilacap kembali digelar dan menjadi sorotan dalam konteks tradisi Keraton Surakarta. Prosesi ini memuat makna budaya sekaligus memunculkan perhatian publik terhadap dinamika keraton.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories