
RIWARA.id – Platform media sosial milik Meta Platforms kembali menjadi sorotan. Laporan terbaru dari Federal Trade Commission (FTC) mengungkap bahwa Facebook menjadi sumber kerugian terbesar dari kasus penipuan yang bermula di media sosial sepanjang 2025.
Dalam laporan yang dirilis dan dikutip Rabu (29/4/2026), FTC menyatakan bahwa nilai kerugian akibat penipuan berbasis media sosial mencapai US$2,1 miliar atau setara lebih dari Rp34 triliun. Angka ini melonjak drastis hingga delapan kali lipat dibandingkan tahun 2020.
“Pada tahun 2025, orang-orang melaporkan lebih banyak uang yang hilang karena penipuan yang dimulai di Facebook dibandingkan platform media sosial lainnya,” tulis FTC.
Facebook Dominasi, Lampaui WhatsApp dan Instagram
FTC secara khusus menyoroti dominasi Facebook dalam ekosistem penipuan digital global. Kerugian yang berasal dari platform ini bahkan melampaui platform lain dalam ekosistem Meta seperti WhatsApp dan Instagram.
Yang lebih mengejutkan, kerugian dari penipuan di Facebook tercatat lebih besar dibandingkan total kerugian dari penipuan berbasis SMS maupun email.
Data ini memperkuat indikasi bahwa media sosial kini telah menjadi kanal utama bagi pelaku kejahatan digital untuk menjangkau korban dalam skala masif.
Modus Paling Sering
Berdasarkan laporan FTC, penipuan belanja (shopping scams) menjadi jenis yang paling sering terjadi. Lebih dari 40 persen korban melaporkan tertipu setelah membeli barang melalui iklan atau toko palsu di media sosial.
Namun dari sisi nilai kerugian, penipuan investasi justru menjadi yang paling merugikan. FTC mencatat total kerugian dari modus ini mencapai sekitar US$1,1 miliar, atau lebih dari separuh total kerugian penipuan media sosial.
Modus investasi palsu biasanya menawarkan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat, sering kali melalui platform trading fiktif atau skema yang tampak meyakinkan.
Mengapa Media Sosial Jadi Lahan Empuk Penipuan?
FTC menjelaskan bahwa karakteristik media sosial menjadi faktor utama meningkatnya kasus penipuan. Platform ini memungkinkan pelaku untuk:
Menjangkau miliaran pengguna dengan biaya rendah
Menggunakan iklan tertarget untuk calon korban spesifik
Membuat akun anonim atau identitas palsu
Membangun kepercayaan melalui komunitas atau testimoni
Kemudahan ini membuat pelaku dapat menjalankan operasi penipuan secara sistematis dan sulit dilacak.
Semua Usia Jadi Target
Laporan FTC juga menunjukkan bahwa hampir semua kelompok usia terdampak oleh penipuan di media sosial.
Bahkan, media sosial menjadi sumber kerugian terbesar untuk hampir seluruh kelompok umur, kecuali lansia di atas 80 tahun.
“Media sosial adalah metode kontak penipuan yang paling mahal tahun lalu, dalam hal agregat kerugian untuk setiap kelompok usia di bawah 80 tahun,” tulis FTC.
Hal ini menandakan bahwa risiko penipuan tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu, melainkan telah menjadi ancaman universal bagi pengguna internet.
Dominasi Ekosistem Meta
Secara agregat, FTC mencatat bahwa sebagian besar kerugian penipuan media sosial berasal dari platform dalam ekosistem Meta.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana skala besar platform digital dapat menjadi pedang bermata dua—memberikan kemudahan komunikasi, tetapi juga membuka peluang penyalahgunaan.
Imbauan untuk Pengguna
Melihat tren yang semakin mengkhawatirkan, FTC mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat berinteraksi di media sosial.
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
Tidak mudah tergiur tawaran investasi dengan keuntungan tidak masuk akal
Memastikan keaslian akun dan penjual sebelum bertransaksi
Menghindari klik tautan mencurigakan
Tidak membagikan data pribadi secara sembarangan
Lonjakan penipuan di media sosial menjadi alarm serius bagi dunia digital. Dengan kerugian mencapai miliaran dolar dan dominasi platform besar seperti Facebook, pengguna dituntut untuk semakin cerdas dan waspada.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, literasi digital menjadi kunci utama untuk melindungi diri dari kejahatan siber yang semakin kompleks.*
FTC mengungkap Facebook menjadi sumber kerugian terbesar dari penipuan media sosial pada 2025. Total kerugian global tembus US$2,1 miliar, didominasi investasi dan belanja palsu.