RIWARA.id – Hari suci Tumpek Landep dinilai bukan sekadar tradisi menghias atau “mantenin motor”, melainkan momentum spiritual untuk menajamkan pikiran, mengendalikan diri, dan memperkuat kesadaran hidup. Pemahaman ini disampaikan Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi.
Dikutip dari kemenag.go.id, Tumpek Landep secara filosofis berasal dari kata landep yang berarti tajam. Namun ketajaman yang dimaksud bukan hanya benda fisik, melainkan ketajaman pikiran (manacika), kebijaksanaan, serta kejernihan batin dalam menjalani kehidupan.
Menurut Luh Irma Susanthi, di era digital saat ini umat hidup di antara tradisi dan tren modern. Karena itu, masyarakat diminta tidak sekadar mengikuti kebiasaan tanpa memahami makna sesungguhnya. Jika ritual hanya menjadi formalitas atau konten media sosial, esensi spiritual Tumpek Landep dikhawatirkan hilang.
Ia menjelaskan, dahulu Tumpek Landep digunakan untuk menyucikan senjata seperti keris, tombak, dan alat perang. Kini, makna itu berkembang seiring perubahan zaman.
“Senjata” modern dapat berupa kendaraan, laptop, hingga telepon pintar yang membantu aktivitas manusia. Namun benda-benda itu seharusnya tetap dimaknai sebagai simbol, bukan tujuan utama upacara.
Dalam ajaran Hindu, Tumpek Landep juga mengandung nilai kemenangan atas perang batin, memberi kesadaran pada diri, serta kelembutan dalam bersikap. Karena itu, perayaan Tumpek Landep seharusnya menjadi momen refleksi: apakah teknologi yang digunakan membawa manfaat atau justru menjauhkan dari dharma.
Luh Irma menambahkan, generasi muda menghadapi tantangan besar di tengah banjir informasi dan tren media sosial. Ketajaman berpikir sangat dibutuhkan agar tidak mudah terbawa arus. Tumpek Landep, kata dia, mengajarkan agar manusia cerdas dalam berpikir, kuat dalam prinsip, tetapi tetap lembut dalam perilaku.
“Tradisi adalah warisan nilai. Ia tidak sekadar diulang, tetapi harus dimaknai,” ujarnya. (*)
Makna Tumpek Landep bukan sekadar mantenin motor, tetapi menajamkan pikiran dan kesadaran diri menurut Kemenag.