Karaton Art Festival 2026: Gusti Moeng Tegaskan Kraton sebagai Pusat Tari Dunia, Regenerasi Penari Jadi Sorotan

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08 WIB
Karaton Art Festival 2026
Karaton Art Festival 2026 (Foto: Dok. Karaton Surakarta Hadiningrat)

 

SURAKARTA, RIWARA.id - Suasana Karaton Surakarta Hadiningrat bersiap menjadi pusat perhatian pada peringatan Hari Tari Dunia 2026. Bukan sekadar panggung pertunjukan, Karaton Art Festival tahun ini membawa misi yang lebih dalam: mengukuhkan kembali Kraton sebagai pusat lahirnya tari-tari Nusantara.

Di tengah derasnya arus modernisasi, panggung klasik justru menemukan momentumnya. Karaton Art Festival 2026 hadir bukan hanya sebagai selebrasi budaya, tetapi juga sebagai pernyataan penting—bahwa akar seni tari Indonesia masih berdenyut kuat dari dalam tembok Kraton.

Sorotan utama pun mengarah pada pernyataan tegas GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, sosok sentral di balik penyelenggaraan festival ini.

Dari Nasional Menuju Dunia

Gusti Moeng membuka kemungkinan besar bahwa Karaton Art Festival akan berkembang menjadi agenda budaya berskala internasional.

“Mungkin ini memang acara tahunan untuk nasional, bahkan bisa juga dunia, karena ini dalam rangka Hari Tari Dunia,” ujarnya kepada Riwara.id, Jumat (24/4/2026).

Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhad ap seni tradisi semakin meningkat, baik di dalam negeri maupun global. Momentum Hari Tari Dunia menjadi panggung strategis untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke mata dunia.

Karaton sebagai Sumber Utama Tari Nusantara

Salah satu poin paling kuat dari pernyataan Gusti Moeng adalah penegasan bahwa Kraton bukan sekadar tempat pertunjukan, melainkan sumber utama lahirnya ragam gerak tari.

“Kraton bagi saya adalah pusat kesenian, terutama tari, karena dulu adalah pusat pemerintahan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa hampir seluruh gerakan tari yang berkembang di luar Kraton memiliki akar dari pakem klasik yang sudah ada sejak lama.

“Hampir semua tarian di luar itu mengambil gerakan dari Kraton. Mulai dari sembahan, arah sawit, ngekeluarti, sapet, sinded, sampai pendapat—semuanya sudah ada di Bedhoyo, Srimpi, dan Wireng,” paparnya.

Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa modernisasi tidak bisa dilepaskan dari tradisi. Justru, kekuatan inovasi lahir dari pemahaman terhadap akar budaya itu sendiri.

Regenerasi Jadi Indikator Keberhasilan

Lebih dari sekadar pertunjukan, Karaton Art Festival 2026 juga membawa misi regenerasi. Gusti Moeng menekankan bahwa keberhasilan acara ini diukur dari keberlanjutan penari muda di lingkungan Kraton.

“Sekarang sudah banyak anak muda, terutama sentono dalem. Dari penari Bedhoyo yang tampil nanti, ada tujuh yang merupakan cucu, cicit, hingga wareng. Ini menunjukkan regenerasi berjalan,” ungkapnya.

Hal ini menjadi sinyal positif di tengah kekhawatiran akan menurunnya minat generasi muda terhadap seni tradisional. Justru, di dalam Kraton, regenerasi berjalan secara alami dan berkelanjutan.

Dari Panggung Tradisional ke Layar Digital

Menyesuaikan dengan perkembangan zaman, Karaton Art Festival 2026 juga akan menjangkau audiens lebih luas melalui siaran digital.

“Acara ini disiarkan melalui YouTube, sehingga masyarakat yang tidak bisa hadir tetap bisa menyaksikan,” kata Gusti Moeng.

Langkah ini menjadi strategi penting untuk memperluas akses dan menjadikan seni tradisi lebih inklusif. Tidak lagi terbatas oleh ruang fisik, pertunjukan tari kini dapat dinikmati oleh siapa saja, di mana saja.

Orasi Budaya oleh Maestro Dunia

Yang membuat festival tahun ini semakin istimewa adalah pembukaan yang tidak biasa. Sebelum pertunjukan dimulai, akan ada orasi kebudayaan dari maestro tari Indonesia, Sardono W. Kusumo.

“Pentas akan dimulai pukul 19.00 WIB dengan orasi kebudayaan oleh Profesor Sardono W. Kusumo,” jelasnya.

Sardono dikenal sebagai seniman dengan karya yang telah mendunia. Kehadirannya diharapkan mampu memberikan perspektif baru sekaligus menggugah kesadaran kolektif tentang pentingnya pelestarian seni tari.

“Beliau diharapkan bisa menyadarkan, terutama trah Pakubuwono, untuk terus berkontribusi dalam pelestarian dan pengembangan tari,” tambah Gusti Moeng.

Baca juga : Bisa Dapat Tip & Insentif! Gule Sar Legi Jakarta Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan Baru, Cek Syaratnya

Lebih dari Sekadar Festival

Karaton Art Festival 2026 bukan hanya agenda tahunan. Ia adalah simbol perlawanan terhadap lupa, terhadap hilangnya akar budaya di tengah modernitas.

Di panggung ini, gerak tari bukan sekadar estetika, melainkan bahasa sejarah. Setiap langkah, setiap posisi tangan, menyimpan nilai, filosofi, dan identitas yang diwariskan lintas generasi.

Kraton Surakarta, melalui festival ini, kembali menegaskan posisinya: bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga sumber inspirasi bagi masa depan seni tari Indonesia.

 Menjaga yang Asal, Mengarah ke Masa Depan

Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, Karaton Art Festival 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan tidak bisa dibangun tanpa memahami masa lalu.

Dari panggung Kraton, pesan itu disampaikan dengan cara paling indah: melalui tari.

Dan seperti yang ditegaskan Gusti Moeng, selama Kraton tetap hidup, maka denyut tari Nusantara akan terus ada—bahkan hingga ke panggung dunia.*

Karaton Art Festival 2026 di Karaton Surakarta hadirkan Tari Topeng Sekartaji dalam rangka Hari Tari Dunia. Gusti Moeng tegaskan Kraton sebagai pusat tari dan soroti regenerasi penari muda.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories