Pemugaran Panggung Sanggabuwana Keraton Surakarta Tuntas, Sore Ini Menteri Kebudayaan Fadli Zon Bakal Hadir Meresmikan

  • Ari Kristyono
  • 16 Desember 2025
  • Default Publisher Publish by: Ayu Abriyani

RIWARA.ID – Kalau tak ada aral melintang, Menteri Kebudayaan Fadli Zon akan meresmikan selesainya pemugaran Panggung Sanggabuwana di Keraton Surakarta, Selasa (16/12/2025) sore nanti.

Panggung Sanggabuwana, menara setinggi lebih kurang 30 meter, mendapat perhatian dari Kementerian Kebudayaan, setelah sekian tahun kondisinya reyot dan rusak parah di sana-sini.

“Bagian-bagian yang terbuat dari kayu sudah rapuh. Kalau hujan angin, ada saja yang rontok sehingga cukup berbahaya,” tutur KP Eddy Wirabhumi, menantu ISKS Paku Buwono XII almarhum, beberapa waktu lalu.

Menteri Fadli Zon, mengucurkan uang sekitar Rp 3 miliar untuk memperbaiki menara yang dibangun pada masa Paku Buwomo III (1749-1788) itu, yang pengerjaannya dimulai sejak bulan Mei 2025.

Ada rumor, biaya pemugaran berasal dari kantong pribadi Fadli Zon, namun mengenai hal itu Eddy Wirabhumi mengaku tidak mengetahui.

“Soal sumber dana saya tidak tahu. Dari mana pun itu, kami berterima kasih, karena negara telah hadir memperhatikan Keraton,” tandasnya.

Saat selesai pemugaran, Panggung Sanggabuwana akan tampil tetap dengan warna dominan biru putih khas Keraton Surakarta.

Bagian yang dipugar meliputi pengecatan ulang seluruh bagian menara, serta penggantian bagian-bagian yang terbuat dari kayu, khususnya pada teras-teras berpagar yang mengelilingi bagian luar keempat tingkat.

Untuk mengganti bagian yang terbuat dari kayu, Keraton telah menyiapkan kayu khusus dari Hutan Donoloyo, yakni hutan khusus di Slogohimo, Wonogiri, yang sejak dulu digunakan untuk pembangunan Keraton.

Menteri Fadli Zon, beberapa waktu lalu pernah mengungkapkan niatnya untuk melestarikan Keraton, pemugaran Panggung Sanggabuwana merupakan lengkah awal.

“Akan kita kembalikan seperti aslinya. Dulu saya dengar ada jam besar, coba kita lihat apakah itu bisa diadakan lagi,” ujarnya.

Panggung Sanggabuwana, sangat terkenal karena pernah menjadi bangunan tertinggi di Kota Solo.

Menara berbentuk octagonal (segi delapan) yang semakin mengecil ke atas itu, konon merupakan tempat sakral bertemunya para Sinuhun dengan tokoh astral penjaga Laut Selatan, Nyai Roro Kidul.

Salah satu ornamen yang sering menarik perhatian orang, adalah sosok manusia menunggang naga di bagian puncak, melahirkan penafsiran sengkala (simbol tahun) naga muluk tinitihan janma (naga terbang ditunggangi orang) yang merujuk angka tahun 1708 Jawa atau 1738 Masehi.

Angka ini agak membingungkan, karena pada tahun itu Keraton bahkan belum ada, sehingga beberapa pihak berspekulasi sengkala tersebut merupakan simbol kosmologi yang belum diketahui.

KGPH Poeger, salah satu pangeran sepuh putra PB XII, membenarkan fungsi tersebut, yang membuat Panggung Sanggabuwana tidak boleh dimasuki sembarang orang tanpa izin Sinuhun.

Namun, menurutnya ada peran lain yang tidak kalah penting, Sanggabuwana strategis sebagai tempat untuk mengawasi aktivitas Belanda di Benteng Vastenburg.

“Harus diakui, hubungan Keraton dengan Belanda itu baik, tapi selalu waspada satu sama lain. Saat Keraton pindah dari Kartasura, Belanda membangun Benteng Vastenburg tepat di depan Keraton. Lalu Keraton membangun Sanggabuwana untuk mengawasi benteng,” ujarnya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon akan meresmikan selesainya pemugaran Panggung Sanggabuwana di Keraton Surakarta, Selasa (16/12/2025) sore nanti.

Foto Default
Author : Ari Kristyono

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Excepturi doloribus unde molestias laborum delectus adipisci, eos repellat in debitis cum impedit numquam, architecto, facilis.

Topic News
Related News