SURABAYA. RIWARA.id - Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan deepfake kini semakin mengkhawatirkan. Teknologi tersebut tidak lagi hanya digunakan untuk hiburan atau kebutuhan kreatif, tetapi mulai dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melakukan penipuan digital dalam skala besar.
Konsultan keamanan siber PT Radnet Digital Indonesia, Cahyo Darujati, mengatakan deepfake saat ini sudah mampu meniru suara, wajah, bahkan video seseorang dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi.
Menurutnya, penjahat siber kini cukup menggunakan sampel suara singkat dari media sosial untuk membuat kloning suara berbasis AI yang sulit dibedakan dari aslinya.
“AI sekarang mampu membuat suara dan wajah palsu yang sangat realistis. Masyarakat jangan lagi langsung percaya hanya karena terlihat atau terdengar meyakinkan,” kata Cahyo kepada riwara.id, Selasa 12 Mei 2026.
Doktor bidang Computer Vision, Machine Learning, dan AI lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu menjelaskan kemajuan AI telah mengubah pola kejahatan siber menjadi lebih cepat, murah, dan masif.
Deepfake Dipakai untuk Penipuan Transfer Dana
Menurut Cahyo, salah satu modus yang kini mulai marak adalah penggunaan deepfake voice untuk penipuan transfer dana.
Pelaku membuat suara palsu yang menyerupai keluarga, atasan, hingga pemilik perusahaan untuk meminta transfer uang secara mendesak.
Modus tersebut semakin sulit dikenali karena AI mampu meniru intonasi, logat, hingga cara berbicara seseorang secara detail.
“Kalau dulu penipuan suara mudah dikenali karena terdengar aneh, sekarang AI membuat semuanya terdengar sangat natural,” ujarnya.
Selain suara, teknologi deepfake kini juga mampu menghasilkan video call palsu yang terlihat sangat meyakinkan.
Pelaku biasanya menggunakan data foto, video, dan suara yang diambil dari media sosial korban untuk membuat identitas digital palsu.
Karena itu Cahyo meminta masyarakat mulai membatasi jejak digital berlebihan di internet.
Media Sosial Jadi Sumber Data Deepfake
Menurutnya, banyak masyarakat tidak sadar bahwa foto selfie, video pendek, hingga voice note yang diunggah ke media sosial dapat dimanfaatkan untuk membuat deepfake.
Semakin banyak data pribadi tersebar di internet, semakin mudah AI digunakan untuk meniru identitas seseorang.
“Hari ini pencurian identitas digital bisa lebih berbahaya daripada pencurian dompet fisik,” katanya.
Ia mengatakan kasus penipuan berbasis AI diperkirakan akan terus meningkat seiring semakin mudahnya akses teknologi deepfake.
Tidak hanya masyarakat umum, pelaku usaha dan perusahaan juga mulai menjadi sasaran penipuan AI.
AI Bikin Phishing Semakin Sulit Dideteksi
Di sisi lain, Deputy of Operation CSIRT.ID, Muhammad Salahuddien Manggalanny, mengungkapkan AI kini juga digunakan untuk membuat phishing otomatis yang jauh lebih meyakinkan dibanding metode lama.
Menurutnya, AI mampu menyusun email penipuan yang terlihat sangat profesional, personal, dan bebas kesalahan tata bahasa.
Akibatnya, banyak korban tidak menyadari bahwa mereka sedang menjadi target pencurian data.
“AI mempermudah penjahat siber melakukan manipulasi psikologis terhadap korban,” ujarnya.
Ia menjelaskan pelaku saat ini tidak hanya meretas sistem, tetapi juga memanfaatkan AI untuk memetakan target, membangun identitas palsu, hingga melakukan penipuan secara real-time.
Masyarakat Diminta Terapkan Verifikasi Ganda
Untuk mengurangi risiko menjadi korban deepfake dan penipuan AI, para pakar keamanan siber meminta masyarakat mulai menerapkan verifikasi ganda dalam setiap komunikasi digital.
Jika menerima panggilan, video call, atau pesan darurat terkait uang dan data pribadi, masyarakat diminta melakukan konfirmasi ulang melalui jalur komunikasi berbeda.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Mengaktifkan autentikasi dua faktor (MFA)
- Menghindari OTP berbasis SMS
- Tidak mudah percaya voice note atau video call mendadak
- Mengurangi penyebaran data pribadi di media sosial
- Menggunakan password berbeda untuk setiap akun
- Memastikan ulang setiap permintaan transfer dana
Cahyo menegaskan keamanan digital kini tidak lagi hanya menjadi urusan perusahaan teknologi atau pemerintah, tetapi sudah menjadi kebutuhan dasar seluruh masyarakat.
“Di era AI saat ini, identitas digital adalah aset berharga yang harus dijaga seperti uang dan dokumen penting,” tutupnya.*
Teknologi AI dan deepfake kini berkembang semakin canggih hingga mampu meniru wajah dan suara manusia dengan sangat realistis. Pakar keamanan siber mengingatkan masyarakat Indonesia untuk lebih waspada terhadap penipuan digital berbasis AI yang kini marak digunakan pelaku kejahatan siber.