CILACAP, RIWARA.id – Di tengah suasana yang hening dan penuh khidmat, ratusan kerabat keraton berjalan perlahan dalam satu irama. Doa-doa dipanjatkan lirih, menghadirkan nuansa yang tidak sekadar seremonial, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual yang dalam.
Bagi sebagian masyarakat, prosesi ini mungkin tampak sebagai kirab budaya. Namun dalam perspektif tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat, ritual tersebut dipahami sebagai bagian dari laku spiritual yang memiliki makna simbolik terkait warisan nilai, kepemimpinan, dan kesinambungan budaya Jawa.
Ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma kembali digelar di Cilacap pada Minggu Kliwon (3/5/2026). Prosesi ini melibatkan ratusan kerabat keraton dan menjadi perhatian publik karena tidak dilaksanakan secara rutin.
Penjelasan Gusti Moeng sebagai Tokoh Keraton
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menjelaskan bahwa ritual tersebut merupakan bagian dari tradisi leluhur yang telah berlangsung sejak masa raja-raja Surakarta.
Dalam keterangannya kepada Riwara.id, Selasa (6/5/2026), ia menegaskan bahwa prosesi ini berpusat pada pengambilan Kembang Wijayakusuma dari Pulau Majeti—lokasi yang dalam tradisi keraton dipandang memiliki nilai simbolik dan spiritual.
Menurut Gusti Moeng, praktik serupa telah dikenal sejak era Pakubuwono X hingga Pakubuwono XI. Pada masa itu, perjalanan menuju lokasi pengambilan bunga bisa memakan waktu panjang dan melibatkan berbagai tahapan laku batin.
Rangkaian Perjalanan Spiritual
Ia menuturkan, rombongan utusan keraton pada masa lalu berangkat dari Surakarta dengan melibatkan unsur Kepatihan, Sentana Dalem, hingga para pangeran. Dalam perjalanan tersebut, para peserta menjalani laku prihatin sebagai bagian dari persiapan spiritual.
Dalam penuturan Gusti Moeng, rombongan juga singgah di sejumlah wilayah seperti Magelang dan Gumelem, Banjarnegara, untuk melakukan doa dan semedi sebelum melanjutkan perjalanan ke Cilacap.
“Perjalanan ini bukan hanya fisik, tetapi juga bagian dari laku spiritual yang dijalankan secara bertahap,” ujarnya.
Menunggu Tanda dalam Perspektif Tradisi
Setibanya di kawasan pesisir selatan, rombongan tidak langsung menuju pulau. Dalam penjelasan Gusti Moeng, terdapat proses menunggu yang dalam tradisi keraton diyakini sebagai bagian dari tahapan ritual.
Menurutnya, penyeberangan dilakukan setelah muncul “tanda-tanda” tertentu yang dalam kepercayaan tradisi dipahami sebagai bentuk keselarasan antara manusia, alam, dan nilai spiritual.
Kondisi Alam dan Tantangan Perjalanan
Pulau Majeti dikenal memiliki kondisi geografis yang cukup menantang. Akses menuju lokasi pengambilan bunga terbatas dan bergantung pada kondisi alam.
Dalam penuturan yang berkembang di lingkungan keraton, perjalanan menuju pulau tersebut pada masa lalu tidak lepas dari berbagai risiko, termasuk kondisi ombak yang besar di wilayah pesisir selatan.
Namun demikian, aspek tersebut dipahami sebagai bagian dari narasi tradisi yang menyertai perjalanan ritual dan tidak terpisahkan dari konteks budaya yang melingkupinya.
Makna Simbolik Wijayakusuma
Dalam tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat, Kembang Wijayakusuma memiliki makna simbolik yang erat kaitannya dengan nilai kepemimpinan.
Secara kultural, bunga ini diasosiasikan dengan kemuliaan, keberkahan, serta legitimasi dalam perspektif adat. Pemaknaan tersebut berada dalam ranah simbolik yang berkembang di lingkungan keraton dan diwariskan secara turun-temurun.
Konteks Kekinian dan Pelestarian Budaya
Pelaksanaan ritual pada tahun 2026 ini, menurut Gusti Moeng, merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi di tengah perubahan zaman.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam ritual tetap dijaga, termasuk pada masa kepemimpinan Paku Buwana XIV Hangabehi, sebagai bagian dari identitas budaya yang terus dirawat.
Hingga saat ini, tidak terdapat pernyataan resmi dari pihak keraton yang mengaitkan langsung pelaksanaan ritual ini dengan agenda penobatan atau peristiwa tertentu.
Tradisi dan Dinamika
Di tengah dinamika yang pernah berkembang di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat, praktik budaya seperti ritual Wijayakusuma tetap berjalan sebagai bagian dari pelestarian tradisi.
Para pengamat budaya menilai bahwa keberlanjutan ritual ini menunjukkan adanya upaya menjaga identitas kultural di tengah perubahan sosial.
Menjaga Warisan Leluhur
Ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma menjadi salah satu bentuk konkret bagaimana tradisi terus dirawat dan dijalankan. Ia tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga praktik budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Di Cilacap, prosesi ini kembali menghadirkan pengingat bahwa hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai budaya masih memiliki tempat dalam kehidupan modern.
Dan di antara langkah-langkah yang berjalan dalam keheningan itu, tersimpan pesan bahwa tradisi akan tetap hidup selama terus dijaga dengan kesadaran dan pemahaman.*
Gusti Moeng, Pengageng Sasana Wilapa dan Ketua LDA Keraton Surakarta, menjelaskan makna ritual Wijayakusuma di Cilacap sebagai laku spiritual dan pelestarian budaya pada era PB XIV Hangabehi.