Jarang Terjadi, Ritual Wijayakusuma Digelar di Cilacap oleh Keraton Surakarta

Selasa, 05 Mei 2026 | 00:03 WIB
Prosesi kirab ritual Wijayakusuma oleh kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat berlangsung di pesisir Kabupaten Cilacap sebagai bagian dari tradisi budaya yang sarat makna
Prosesi kirab ritual Wijayakusuma oleh kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat berlangsung di pesisir Kabupaten Cilacap sebagai bagian dari tradisi budaya yang sarat makna (Foto: Ilustrasi: AI Generated / Tim Redaksi Riwara.id)

 

CILACAP, RIWARA.ID – Pagi itu, suasana pesisir selatan Jawa tidak seperti biasanya. Ratusan orang dengan balutan busana adat berjalan perlahan, tertib, dan penuh khidmat.

Di tengah iring-iringan, doa-doa dipanjatkan dalam keheningan yang terasa begitu dalam, seolah menyambungkan ruang antara masa kini dengan jejak panjang sejarah yang belum benar-benar hilang.

Bagi sebagian masyarakat, prosesi ini mungkin tampak seperti kirab budaya biasa. Namun bagi mereka yang memahami tradisi keraton, ritual tersebut menyimpan makna yang jauh lebih dalam—sebuah laku spiritual yang tidak hanya berbicara tentang adat, tetapi juga tentang legitimasi, warisan, dan kesinambungan nilai-nilai kepemimpinan dalam kebudayaan Jawa.

Kabupaten Kabupaten Cilacap kembali menjadi saksi pelaksanaan salah satu ritual penting dalam tradisi keraton, yakni Miwaha Sekar Wijaya Kusuma.

Prosesi yang melibatkan ratusan kerabat Karaton Surakarta Hadiningrat ini digelar pada Minggu (3/5/2026), sebagaimana dilansir Riwara.id dari rilis pemerintah daerah yang dipublikasikan pada Senin (4/5/2026).

Baca juga:< /strong> Kabar Haji 2026: Jemaah Haji Asal Embarkasi Kertajati Meninggal Dunia di Madinah, Apa Penyebabnya?

Menghidupkan Tradisi yang Tak Setiap Saat Digelar

Ritual memetik bunga Wijayakusuma bukanlah tradisi yang dilakukan secara rutin. Dalam sejumlah keterangan, prosesi ini disebut hanya dilaksanakan pada momen-momen tertentu dalam siklus budaya keraton.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap, Ahmad Fauzi, menyampaikan bahwa secara historis, ritual ini memiliki keterkaitan dengan tradisi penobatan raja di lingkungan keraton.

“Tradisi ini tidak dilakukan setiap tahun. Metik Wijaya Kusuma hanya dilaksanakan saat akan ada penobatan raja Surakarta. Secara historis, terakhir kali prosesi ini dilakukan sekitar tahun 1930,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan adanya dimensi historis yang kuat dalam pelaksanaan ritual. Namun demikian, keterkaitan tersebut dipahami dalam perspektif budaya dan belum disertai konfirmasi resmi dari pihak keraton terkait konteks pelaksanaan saat ini.

Dari Pendopo Menuju Laut Selatan

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 07.00 WIB di Pendopo Kabupaten Cilacap. Doa Kawilujengan menjadi pembuka prosesi, sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kelancaran seluruh rangkaian kegiatan.

Suasana h ening menyelimuti pendopo saat doa dipanjatkan. Para kerabat keraton tampak larut dalam kekhusyukan, mengenakan busana adat lengkap yang mempertegas nuansa sakral dalam prosesi tersebut.

Setelah doa bersama, rombongan bergerak menuju Pantai Teluk Penyu. Kirab budaya yang berlangsung di sepanjang jalur ini menarik perhatian masyarakat. Warga tampak memadati sisi jalan, menyaksikan prosesi yang jarang terlihat dalam keseharian.

Menuju Titik-Titik Sakral

Setibanya di kawasan pesisir, rombongan kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan tugas yang berbeda.

Tim utama bergerak menuju Pulau Majeti untuk melaksanakan inti ritual pengambilan bunga Wijayakusuma. Lokasi ini dikenal memiliki nilai simbolik dalam tradisi keraton, sebagai tempat yang diyakini berkaitan dengan keberadaan bunga tersebut.

Sementara itu, tim pendukung menuju Goa Masigit Sela untuk melaksanakan doa dan ziarah. Aktivitas ini menjadi bagian dari laku spiritual yang melengkapi keseluruhan rangkaian ritual.

Pembagian peran ini mencerminkan struktur ritual yang telah diwariskan secara turun-temurun, menunjukkan bahwa setiap tahapan memiliki makna dan fungsi tersendiri.

Makna Wijayakusuma dalam Tradisi Keraton

Dalam tradisi keraton Jawa, bunga Wijayakusuma kerap dikaitkan dengan simbol kepemimpinan. Ia tidak sekadar dipandang sebagai bunga, tetapi sebagai representasi nilai-nilai yang melekat pada seorang pemimpin.

Secara kultural, bunga ini diasosiasikan dengan kem uliaan, keberkahan, dan legitimasi. Namun, pemaknaan tersebut berada dalam ranah simbolik dan kepercayaan budaya yang berkembang di lingkungan keraton.

Para pengamat budaya menilai bahwa keberadaan ritual ini menjadi bagian dari cara masyarakat menjaga kesinambungan nilai-nilai tradisional, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan dan tata nilai sosial.

Puncak Prosesi dan Kehadiran Tokoh Keraton

Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya pada sore hari di Pendopo Kabupaten Cilacap. Acara ini dihadiri sejumlah tokoh dari lingkungan keraton, termasuk perwakilan Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat.

Di antaranya hadir G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), yang dikenal sebagai tokoh penting dalam struktur adat keraton, serta sejumlah anggota keluarga keraton lainnya.

Selain itu, turut hadir unsur Paguyuban Kawula Keraton Surakarta Hadiningrat (PAKASA), yang selama ini aktif dalam kegiatan pelestarian budaya keraton.

Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan bahwa ritual tersebut melibatkan berbagai elemen dalam ekosistem budaya keraton.

Penguatan Komunitas dan Kelembagaan

Dalam kesempatan yang sama, dilakukan pengukuhan pengurus PAKASA Wijaya Kusuma Cilacap serta penyerahan Prasasti Nawala. Kegiatan ini menjadi simbol penguatan kelembagaan komunitas keraton di tingkat daerah.

Pelaksana Tugas Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma Surya, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), turut hadir menyaksikan prosesi tersebut.

Momentum ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga ruang i nteraksi antara pemerintah daerah dan komunitas adat dalam menjaga kelestarian budaya.

Tradisi, Identitas, dan Tantangan Zaman

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Cilacap, Teguh Mulyadi, menilai bahwa pelestarian tradisi seperti ritual Wijayakusuma memiliki peran penting dalam menjaga identitas bangsa.

“Pelestarian adat bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi penguat identitas bangsa yang perlu dijaga melalui sinergi antara lembaga adat dan pemerintah daerah,” ujarnya.

Di tengah arus modernisasi, keberadaan tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai lokal tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.

Di Tengah Dinamika, Tradisi Tetap Berjalan

Pelaksanaan ritual ini juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika yang berkembang di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat. Dalam beberapa tahun terakhir, keraton kerap menjadi sorotan publik karena berbagai isu internal.

Namun demikian, kegiatan seperti ritual Wijayakusuma menunjukkan bahwa praktik budaya tetap berjalan sebagai bagian dari pelestarian tradisi, terlepas dari dinamika yang ada.

Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat pernyataan resmi dari pihak Karaton Surakarta Hadiningrat maupun Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat terkait konteks pelaksanaan ritual tersebut.

Warisan Budaya yang Terus Dijaga

Ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi dapat terus hidup di tengah perubahan zaman. Ia bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas yang terus dirawat.

Di Cilacap, prosesi ini tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga pengingat bahwa sejarah, nilai, dan kepercayaan masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat hari ini.

Dan di antara langkah-langkah sunyi para peserta ritual, tersimpan sebuah pesan sederhana: bahwa tradisi, selama masih dijaga, akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup.*

 

Ritual Wijayakusuma kembali digelar di Cilacap dengan melibatkan ratusan kerabat Keraton Surakarta. Prosesi langka ini menyimpan makna budaya dan historis dalam tradisi penobatan raja.

Foto Editor
Inung R Sulistyo -

Jurnalis dan analis internasional, mengurai dinamika geopolitik, ekonomi global, dan konflik dunia dengan ketajaman dan kedalaman. Menulis untuk pembaca yang ingin memahami arah perubahan dunia serta dampaknya bagi Indonesia.

 Stories