CILACAP, RIWARA.id – Ada sesuatu yang berbeda di pagi itu. Di antara langkah perlahan dan iring-iringan sunyi, udara terasa lebih berat—seolah menyimpan cerita lama yang kembali bangkit. Doa-doa dipanjatkan tanpa suara keras, namun justru dalam keheningan itulah getaran spiritual terasa paling kuat.
Tak banyak yang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Bagi sebagian orang, ini hanyalah kirab budaya biasa. Namun bagi mereka yang mengerti tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat, prosesi ini adalah peristiwa langka—ritual sakral yang bahkan tidak selalu muncul dalam satu generasi.
Dan ketika langkah rombongan itu bergerak menuju laut selatan, satu hal menjadi jelas: ini bukan sekadar tradisi. Ini adalah jejak sejarah yang hidup kembali.
Kabupaten Cilacap kembali menjadi panggung bagi ritual Miwaha Sekar Wijaya Kusuma yang digelar Minggu (3/5/2026). Prosesi ini melibatkan ratusan kerabat keraton dan menjadi sorotan karena jarangnya
ritual tersebut dilaksanakan.
Ritual yang Tak Sembarangan Digelar
Tradisi memetik bunga Wijayakusuma bukanlah agenda rutin. Dalam catatan sejarah, ritual ini hanya dilakukan pada momen-momen tertentu, terutama yang berkaitan dengan penobatan raja.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Cilacap, Ahmad Fauzi, mengungkapkan bahwa terakhir kali prosesi besar serupa tercatat sekitar tahun 1930. Artinya, kemunculan kembali ritual ini membawa dimensi historis yang kuat.
Namun hingga kini, pelaksanaan tersebut lebih dipahami sebagai bagian dari pelestarian budaya, bukan penanda langsung peristiwa politik atau penobatan.
Kirab dari Pendopo ke Laut Selatan
Prosesi dimulai sejak pukul 07.00 WIB di Pendopo Kabupaten Cilacap melalui doa Kawilujengan. Suasana khidmat langsung terasa, dengan para peserta mengenakan busana adat lengkap.
Rombongan kemudian bergerak menuju Pantai Teluk Penyu. Sepanjang perjalanan, masyarakat tampak antusias menyaksikan kirab budaya yang jarang terjadi ini.
Dari sana, perjalanan berlanjut ke titik-titik sakral. Tim utama menuju Pulau Majeti untuk mengambil bunga Wijayakusuma. Sementara tim lainnya menuju Goa Masigit Sela untuk melakukan doa dan ziarah.
Makna Tersembunyi di Balik Wijayakusuma
Dalam tradisi Jawa, Wijayakusuma bukan sekadar bunga. Ia adalah simbol kekuasaan, legitimasi, dan keberkahan seorang pemimpin.
Keberadaan ritual ini menjadi bagian dari kosmologi Jawa yang menghubungkan manusia dengan alam dan dimensi spiritual. Tak heran jika setiap tahap prosesi dijalankan dengan penuh kehati-hatian dan laku batin.
Gusti Moeng Ungkap Jejak Panjang Ritual
Tokoh keraton, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, menegaskan bahwa ritual ini merupakan warisan leluhur yang telah berlangsung sejak era Pakubuwono X hingga Pakubuwono XI.
Ia menjelaskan bahwa pada masa lalu, perjalanan menuju lokasi pengambilan bunga bisa memakan waktu hingga dua bulan. Para utusan menjalani tirakat, bahkan mengenakan busana menyerupai ihram sebagai simbol kesucian niat.
“Perjalanan ini bukan sekadar fisik, tetapi laku spiritual. Setiap titik memiliki makna, dari Magelang hingga Gumelem sebelum mencapai Cilacap,” ujarnya kepada Riwara.id, Rabu (6/5/2026).
Pulau Majeti dan Risiko Nyata
Pulau Majeti bukan tempat yang mudah dijangkau. Medan yang ekstrem, ombak besar, hingga akses terbatas membuat perjalanan ini penuh risiko.
Tangga bambu yang dipasang di atas karang tajam menjadi satu-satunya jalur menuju lokasi bunga. Dalam kisah yang berkembang, bahkan pernah terjadi perahu terbalik yang menelan korban.
Para peserta ritual harus bermalam dan menjalani tirakat untuk memastikan proses berjalan selaras dengan kehendak alam dan restu leluhur.
Puncak Prosesi dan Penguatan Komunitas
Acara ditutup di Pendopo Kabupaten Cilacap dengan kehadiran tokoh keraton dan pemerintah daerah. Selain Gusti Moeng, hadir pula unsur Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (PAKASA).
Momentum ini juga diisi dengan pengukuhan pengurus PAKASA Wijaya Kusuma Cilacap dan penyerahan Prasasti Nawala.
Tradisi di Tengah Perubahan Zaman
Di tengah berbagai dinamika internal Karaton Surakarta Hadiningrat, ritual ini menunjukkan bahwa tradisi tetap berjalan.
Pelestarian budaya menjadi pengingat bahwa identitas tidak hanya dibangun dari masa kini, tetapi juga dari warisan panjang yang terus dijaga.
Lebih dari Sekadar Ritual
Miwaha Sekar Wijaya Kusuma bukan sekadar peristiwa budaya. Ia adalah narasi tentang hubungan manusia dengan sejarah, alam, dan spiritualitas.
Dan di Cilacap, ritual ini kembali membuktikan satu hal: tradisi tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali hidup.*
Ritual sakral Miwaha Sekar Wijayakusuma kembali digelar di Cilacap setelah puluhan tahun. Prosesi langka dari Keraton Surakarta ini menyimpan makna sejarah, spiritual, dan simbol kepemimpinan Jawa.