![]()
RIWARA.ID- Jajanan lawas ini tampaknya konsisten hanya ada di Kota Solo. Namanya cabuk rambak, irisan tipis ketupat yang diberi topping sambal wijen dengan pelengkap karak (kerupuk nasi), tersaji selalu dalam pincuk daun pisang.
Meski sederhana, cabuk rambak memiliki tempat khusus yang sudah sangat berakar di hati Wong Solo.
“Ini sudah ada sejak zaman kolonial, dulunya memang menggunakan kerupuk kulit alias rambak. Tapi kemungkinan ada masa di mana rambak susah didapatkan, akhirnya diganti dengan karak,” tutur sejarawan Heri Priyatmoko beberapa waktu lalu.
Tak hanya dinikmati rakyat jelata, cabuk rambak juga disukai kaum bangsawan. Hal itu tampaknya berhubungan dengan fakta sebagian besar pembuat cabuk rambak berasal dari Baki, Sukoharjo.
Kawasan Baki hingga saat ini warganya banyak yang mengabdikan diri sebagai abdi dalem Keraton Surakarta.
Dari kawasan yang sama juga menjadi asal muasal para pedagang nasi liwet, jajanan khas Solo lainnya.
Heri Priyatmoko bersama komunitas pemerhati sejarah Solo Societeit sempat menelusuri catatan lama, di antaranya cerita tentang Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kusumawardhani, putri KGPAA Mangkunegara VII yang gemar menyantap cabuk rambak.
“Gusti Nurul sangat terkenal di zamannya, menjadi simbol tren da n kecantikan pada masanya, ternyata juga gemar makan cabuk rambak, sebuah jajanan yang merakyat dan sederhana,” ujarnya.
Hingga saat ini, cabuk rambak bisa ditemui di beberapa pasar tradisional seperti Pasar Gede dan Pasar Kembang dengan harga berkisar di bawah Rp 10.000 per porsi.
Di kawasan kuliner malam di pedestrian Jalan Yos Sudarso (Nonongan) banyak juga penjual nasi liwet sekaligus menyediakan cabuk rambak.
Sedangkan di halaman Masjid Agung Keraton Surakarta, setiap keramaian Sekaten selalu bisa ditemukan penjaja cabuk rambak di antara penjual kinang dan telur asin yang menjadi pelengkap “wajib” acara Sekaten.
Jajanan lawas khas Solo, namanya cabuk rambak, makanan kesukaan rakyat hingga ningrat. Terbuat dari irisan tipis ketupat dengan saus sambal wijen.